Selasa, 08 Oktober 2013

GURU KEHIDUPAN: MENUJU PRIBADI YANG UTUH



Manusia itu takut kesepian lho.. Hehe, ternyata fakta ini sudah berhasil saya amati di hampir semua orang. Kebutuhan manusia untuk bersosialisasi, didengarkan, diakui, disayangi dan di..di.. lainnya adalah bukti yang cukup kuat bahwa manusia itu takut hidup sendirian. Dengan tetap menghormati perkembangan teknologi yang ada, adanya teknologi seperti blackberry messenger, what’s up, facebook, twitter, skype, dan berbagai macam media sosial lainnya. Membuktikan bahwa manusia itu butuh teman.. bahkan ada sebuah kesimpulan yang saya peroleh dulu banget waktu SMA (manusia itu makhluk sosial).
Kesendirianku, kesendirianmu dan kesendiriannya…
Karena takut sendirian, akhirnya manusia mencari teman.. bisa bersahabat, berpacaran, atau hanya sekedar teman biasa. Pada akhirnya ada tuh, ungkapan.. “Aku tak bisa hidup tanpamu”.. “Tanpa dirimu, hidupku hancur”.. “Sahabat bagaikan kepompong”.. bla..bla.. hehe.
Kebersamaanku, kebersamaanmu, dan kebersamaannya..
Jadilah, manusia itu mempunyai teman, sahabat dan pacar. Hanya untuk mengisi kekosongan diri mereka. Dalam beberapa kasus penelitian psikologis saya, manusia justru cenderung menolak kesimpulan di atas. Ya, iyalah.. siapa sih yang mau di katakan bahwa mereka berteman untuk mengisi kesepian diri mereka.
Padahal, di dalam ilmu kejiwaan. Semakin banyak manusia mengisi kekosongan jiwa mereka bukan dengan sesuatu yang berasal dari jiwa mereka sendiri. Justru, hal itu akan membuat jiwa mereka semakin kosong dan kosong.. (pernah saya tulis dalam judul blog saya sebelumnya).
Hubungan yang rapuh..
Tidak percaya, coba saja lihat dampak dari hubungan yang dibangun atas kekosongan jiwa. (Dengan tetap menghormati setiap peristiwa di dalam kehidupan) Seorang pacar membunuh kekasihnya karena kekasihnya telah hamil.., dua orang lelaki berebut cewek, seorang suami memukuli istrinya, angka perceraian di antara pasangan yang baru menikah semakin meningkat dari tahun ke tahun, bahkan WHO mempunyai data bahwa tingkat depresi semakin meningkat dari tahun ke tahun.
Lantas akar permasalahannya ada di mana ?
Memeluk kesendirian dengan indah
Salah satu akar permasalahan dari semua persoalan di atas adalah manusia tidak mencintai dirinya sendiri apa adanya. Karena takut kesepian, maka manusia berteman. Dua orang yang sama-sama takut kesepian, kemudian bersahabat, tidak akan menghilangkan kesepian itu sendiri. Malah jadi kesepian kuadrat. Memang hilang ketika bertemu.. namun saat sudah kembali ke rumah masing-masing.. pastilah kesepian itu datang lagi..
Dua orang yang di dalam jiwanya merasa tidak utuh (satu membutuhkan seorang lelaki) dan (satu membutuhkan seorang wanita) menjalani sebuah hubungan pacaran. Memang pada awalnya bisa saling mengisi, namun pada akhirnya hubungan itu cepat atau lambat akan hambar. Bisa cepat putus, bisa sering bertengkar, atau bahkan akibat yang mengerikan bisa saling bunuh-bunuhan (seperti yang diceritakan sebelumnya).
Solusinya adalah cintai diri kita sendiri. Siapa sih diri kita ? Coba lihat ke cermin pasti nanti bisa melihat m***yet hehe.. (disensor oleh KPI J). Bukan.. bukan itu maksudnya. Lihat diri kita apa adanya. Pastilah diri kita mempunyai kelebihan dan kelemahan.. Peluk kelebihan dan kelemahan itu dengan kasih sayang. Katakanlah pada keduanya, aku mencintai kelebihanku dan kelemahanku.
Diri kita pasti mempunyai sisi baik dan buruk. Ya, iyalah.. secara gitu lho J kita bukan seorang Nabi, Rasul atau orang suci. Sayangilah sisi baik dan buruk kita. Itulah bukti bahwa kita hanya manusia biasa kalee.. J. Katakanlah (sambil menarik nafas yang dalam) berulang-ulang.. Aku mencintaimu sisi baikku dan sisi burukku..
Diri yang utuh
Setelah kita mencintai diri kita secara menyeluruh.. Artinya kita tidak mempunyai lagi konflik batin di dalam diri kita. Barulah kita bisa membawa diri kita kepada orang lain. Namun, bukan berarti kita harus menjadi utuh dulu baru kita keluar kepada orang lain. Sambil jalan aja, sambil membawa diri kita menjadi diri yang utuh, sambil kita bergaul kepada orang lain..
Intinya bukanlah kesempurnaan diri namun sebuah kesadaran diri. Bahwa kita tidak sempurna, bahwa kita mempunyai sisi baik dan buruk, bahwa kita mempunyai kelebihan dan kelemahan. Terima semua itu.. Peluk semua itu.. dengan kasih sayang.. Perlahan namun pasti (setiap orang berbeda prosesnya) nanti diri kita menjadi diri yang utuh.
Hubungan yang utuh
Dua orang yang bertemu.. entah itu dua orang sahabat, teman atau cowok-cewek yang kemudian menjalin sebuah hubungan. Dan orang yang menjalani hubungan itu adalah orang yang sudah menerima dirinya sendiri secara utuh (baik-buruk, kekuatan-kelemahan dirinya sendiri, dan ada satu lagi sisi maskulin-feminim di dalam dirinya sendiri). Hasilnya adalah hubungan yang indah dan utuh.
Ketika mereka (cowok-cewek) itu berpacaran mereka akan saling menumbuhkan dan meningkatkan potensi penuh pasangannya. Mereka berpacaran tidak untuk saling memiliki dan menguasai diri pasangannya.. Kamu kalau sudah berpacaran denganku harus begini..begitu.. bla..bla.. Nah, itu berarti di dalam diri pasangannya belum menjadi diri yang utuh. Kan kasihan, cowoknya atau ceweknya kalau dikekang proses pertumbuhannya … J
Ketika mereka (sekumpulan orang) atau sahabat (dua orang atau lebih) maka mereka akan saling mengingatkan untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Saling mengisi kekurangan dan menguatkan dengan kelebihan satu sama lain. Hehe..
MAU YANG LEBIH  Oke? KLIK DISINI




Cerita kehidupan, cerita hidup, guru kehidupan, cerita unik, cerita sukses

Tidak ada komentar:

Posting Komentar